Investasi Saham Untuk Pemula

Sedikit info dari blog tetangga,..
semoga bermanfaat

Sebagian besar masyarakat kita pernah mendengar kata “saham” namun tak
jarang yang masih menyisakan banyak pertanyaan di benaknya. Misalnya,
apakah investasi saham bisa dilakukan oleh individu? Atau, andaikata
penghasilan saya kurang dari Rp 5 juta per bulan, bisakah saya
berinvestasi saham? Atau, seandainya saya ingin berinvestasi, apa
tahapannya dan siapa yang harus saya hubungi? Nah, karena ada beberapa
email yang mengajukan pertanyaan serupa, maka sekalian saja saya tulis
di sini.

Seperti kita tahu, saham adalah surat berharga yang menunjukkan bagian
kepemilikan atas suatu perusahaan. Anda membeli saham berarti Anda
membeli sebagian kepemilikan atas perusahaan tersebut. Selama
perusahaan beroperasi dan membukukan keuntungan, Anda juga berhak
mendapat bagian dalam bentuk dividen. Anda juga bisa mengambil
keuntungan dari naiknya harga saham tersebut dari waktu ke waktu.
Untuk lebih lengkapnya, silakan download dan pelajari publikasi Bursa
Efek Indonesia berikut.

Bagaimana Memulainya?

Sebelum memulai berinvestasi, Anda harus membuka rekening efek
terlebih dahulu melalui perusahaan sekuritas yang terdaftar sebagai
anggota bursa di Bursa Efek Indonesia (BEI). Selain itu Anda
diharuskan menyetor sejumlah deposit yang bisa bervariasi antara Rp 10
juta – Rp 50 juta. Masing-masing sekuritas berbeda satu sama lain—-ada
yang menawarkan full-service, ada yang hanya melayani jual-beli saja.
Ada pula perusahaan sekuritas yang memberikan jasa online brokerage,
sehingga Anda bisa melakukan jual-beli lewat internet. Beberapa di
antaranya adalah:

* Etrading Securities – http://www.etrading .co.id
* Indo Premier Securities – http://www.ipotindo nesia.com/
* Phillip Securities Indonesia – http://www.poems. co.id/
* Samuel Sekuritas Indonesia – http://www.e- samuel.com/
* Sarijaya Permana Sekuritas – http://www.sarijaya securities. com
* Supra Securinvest – http://www.indofina nz.com

Daftar lengkapnya bisa dilihat di sini.
http://www.idx. co.id/MainMenu/ Brokers/Brokerag eProfile/ tabid/72/ lang/en-US/ language/ en-US/Default. aspx

Setelah Anda mengisi form, melengkapi persyaratan dan administrasi,
biasanya 2-3 hari kemudian Anda bisa mulai berinvestasi. Besarnya fee
untuk bertransaksi sekitar 0,2% untuk beli dan 0,3% untuk jual.
Perusahaan sekuritas biasanya membolehkan Anda untuk bertransaksi yang
nilainya 2-3 kali dari deposit yang Anda setorkan. Dana biasanya
ditransfer dari/ke rekening Anda pada T+2 (beli) sampai T+3 (jual).

Namun, Anda juga perlu berhati-hati dengan broker. Mereka dibayar
berdasarkan komisi beli-jual—-tak peduli Anda untung atau rugi.
Broker-broker nakal bahkan sering menggunakan dana Anda tanpa ijin
untuk melakukan trasaksi sendiri. Selain itu, sebagian broker
(perusahaan sekuritas) juga bertindak sebagai penjamin emisi
(underwriter) ketika sebuah perusahaan mendaftarkan diri di bursa.
Demi alasan marketing, mereka punya kepentingan untuk menjaga agar
harga saham emiten tersebut tetap “bagus.” Oleh karenanya, jangan
jadikan rekomendasi dari analis sebagai sumber utama dalam melakukan
investasi—-melainkan sebagai masukan saja. Yang terbaik tentu saja do
your own homework!
Analisis Fundamental & Teknikal

Dalam dunia investasi, ada 2 metode yang lazim digunakan sebagai alat,
yaitu fundamental analysis (FA) dan technical analysis (FA). FA
menilai saham berdasarkan kondisi fundamental perusahaan itu sendiri,
karenanya, FA lebih sesuai untuk investasi jangka panjang. Seorang FA
sejati biasanya tak cuma sekadar menganalisis data keuangan saja,
tetapi juga datang ke perusahaan yang diincar, berbicara dengan
manajemen dan pemiliknya, melihat visi-misi dan strategic plan ke
depan, dan sebagainya. Tak jarang seorang FA sejati sampai terbang ke
seantero dunia demi mengorek informasi langsung dari perusahaan.

Sementara itu, TA menilai harga saham berdasarkan refleksi harga di
masa lalu dengan membaca sentimen, tren, dan proyeksi yang mungkin
terjadi di masa depan. TA akan membantu Anda memerkirakan arah
pergerakan harga, membuat batas-batas pergerakan dalam kondisi
tertentu, serta menunjukkan target arah beserta risikonya. TA lazimnya
dilakukan dengan bantuan software aplikasi dan banyak mengeksploitasi
grafik (chart). Karena sifat dan karakternya, TA lebih cocok untuk
trading (spekulasi) dalam jangka pendek atau perlindungan (hedging).

Khusus di Indonesia, ada sebagian orang yang memasukkan bandarmologi
analysis (BA) sebagai salah satu alat alternatif. Singkatnya, BA
dilakukan dengan mencari rumor dan bisikan tertentu, lalu membonceng
bandar saat mereka akan menggoreng sebuah saham. BA hanya sesuai untuk
dilakukan dalam waktu yang benar-benar pendek—-dan Anda punya akses
untuk menemukan saham mana yang siap untuk digoreng.

Gorengan (cornering) adalah aksi yang dilakukan untuk memanipulasi
harga dengan membuat permintaan yang sangat tinggi atas saham
tersebut. Setelah harga sahamnya melewati target point tertentu,
mereka kemudian melakukan aksi jual untuk meraih capital gain.
Saham-saham gorengan biasanya merupakan saham lapis dua-tiga yang
peredarannya tidak banyak dan harganya relatif murah. Mereka bisa
naik-turun dengan sangat drastis tanpa sebab yang jelas dan harga
saham tidak mencerminkan kinerja yang sesungguhnya.

Mana yang paling tepat? Masing-masing hanya sebuah alat yang akan
bermanfaat bila digunakan oleh orang yang tepat pada waktu yang tepat
pula. Saya sendiri lebih menyukai FA karena filosofi saya adalah
membeli saham dalam rangka memiliki perusahaan tersebut. Selama ini,
semua dihitung hanya dengan kalkulator (atau ponsel) dan dicatat di
kertas/map tanpa software khusus. Sejauh ini, saya juga belum pernah
menjual saham yang pernah saya beli.

Kalau Anda tertarik mempelajari lebih lanjut fundamental analysis,
silakan baca buku The Intelligent Investor karya Benjamin Graham,
terbitan HarperBusiness Essential. Aslinya, buku ini terbitan tahun
1973, namun ditulis ulang tahun 2003. Buku Henry Markowitz, Portfolio
Selection: Efficient Diversification of Investments, terbitan Yale
University Press juga layak dijadikan referensi.

Sementara itu, kalau Anda lebih prefer ke technical analysis, saya
sarankan baca buku Technical Analysis of the Financial Markets karya
John Murphy, terbitan New York Institute of Finance (1986). Ada juga
yang menyarankan buku Technical Analysis A to Z karya Stephen Achelis
(2003)—-tapi saya belum pernah baca. Mengenai bandarmologi analysis,
sejauh ini nampaknya belum ada buku yang menulis khusus tentang itu.🙂
Memilih Saham Unggulan

Setelah rekening efek Anda siap dan Anda sudah bisa melakukan
jual/beli saham, maka bagian tersulit dari investasi saham adalah
memilih jagoan yang nantinya akan memberikan hasil terbaik bagi kita.
Karena saham merupakan tanda kepemilikan kita atas perusahaan, maka
ada baiknya untuk berfikir layaknya pemilik bisnis (business owner).
Sebelum menentukan perusahaa
n mana yang ingin dibeli, lakukan
investigasi terlebih dahulu terhadap fundamental perusahaan yang Anda
incar.

Ada ratusan perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI).
Anda bisa memulai dengan menyortir perusahaan-perusaha an dengan bidang
bisnis yang Anda pahami atau perusahaan-perusaha an yang memiliki
produk dan jasa unggulan. Pilih perusahaan yang Anda perkirakan akan
terus bertumbuh selama 10, 20, 30 tahun ke depan. Selanjutnya, sortir
berdasar manajemen dan pemiliknya. Pilih perusahaan yang dikelola oleh
tim manajemen yang mumpuni. Hindari perusahaan yang punya tren “aneh”,
misalnya sebuah perusahaan batubara ketika harga komoditi batubara
naik namun harga sahamnya justru turun.

Ada baiknya juga memilih perusahaan yang dimiliki oleh pemerintah atau
grup bisnis yang terkenal profesional. Perusahaan yang dimiliki
pemerintah (BUMN) biasanya “dituntut” untuk profitable dan memberikan
sumbangan kepada negara melalui penerimaan dividen. Hindari perusahaan
yang dimiliki (dikelola) oleh grup-grup bisnis yang memiliki reputasi
kurang baik. Berhati-hatilah karena mereka tak jarang melakukan
manipulasi laporan keuangan atau melakukan trik financial engineering
yang kasar.

Warren Buffett menyarankan untuk memilih perusahaan yang memiliki
economic moats, atau keunggulan kompetitif yang sulit untuk ditiru
oleh kompetitornya. Economic moats bisa berupa keunggulan dalam bentuk
brand (kekuatan merk), cost (efisiensi biaya), switching (“kesulitan”
untuk berpindah ke produk/jasa lain), atau protection (perlindungan
berupa paten, hak pengelolaan, aturan pemerintah, dsb). Economic moats
tersebut akan membuat customer rela membayar lebih tinggi. Oleh
karenanya, perusahaan yang memiliki economic moats bagus akan lebih
profitable dan tetap bisa bertumbuh—-sekalipun suku bunga atau
harga-harga sedang naik.

Sebagian orang juga menyarankan untuk membeli perusahaan-perusaha an
berkapitalisasi besar (bluechip) dan yang likuid serta sering
dijualbelikan (LQ45). Perhatikan juga bila perusahaan tersebut
berencana untuk membeli kembali (buyback) saham mereka. Biasanya itu
merupakan pertanda saham mereka dihargai lebih murah dan punya prospek
yang bagus di masa depan.

Masih bingung juga? Mungkin Anda bisa sedikit “mencontek” portofolio
dari reksadana saham yang selama ini punya kinerja moncer. Isi perut
reksadana tersebut bisa dilihat dari laporan tahunan dan/atau
prospektus mereka. Anda bisa gunakan portofolio mereka sebagai
guidance untuk menyeleksi perusahaan yang akan menjadi tempat Anda
berinvestasi.

Nah, kalau Anda menyortir sekian ratus perusahaan yang listing di BEI,
maka sampai tahap ini pilihan yang tersisa mungkin tinggal 20-30
perusahaan saja. Cari informasi lebih lengkap tentang kondisi
sebenarnya perusahaan tersebut, misalnya dari karyawan, klien,
supplier, atau akuntan yang mengaudit perusahaan tersebut. Bila ada
waktu, kunjungi perusahaannya supaya mendapat gambaran yang lebih
lengkap. Kalau tidak, berarti Anda harus “make sure” bahwa laporan
keuangan sudah mencerminkan kondisi sesungguhnya dari perusahaan tersebut.

Baca laporan keuangan dan laporan tahunan perusahaan-perusaha an yang
Anda incar. Anda bisa menemukannya di sini, sini, dan sini.
Alternatifnya, Anda juga bisa men-download di situs web perusahaan
yang bersangkutan.

Pilih perusahaan dengan return on equity (ROE) lebih dari 15%. Hal ini
menggambarkan bagaimana kemampuan manajemen dalam mengelola modal yang
dimilikinya. Kalau ROE hanya berkisar 8-9%, maka berinvestasi di
perusahaan tersebut sama saja dengan menabung dalam bentuk deposito.

Selanjutnya, pilih perusahaan yang pertumbuhan laba (earning growth)
stabil berkisar antara 20% atau lebih. Pilih juga perusahaan yang
memiliki rasio utang terhadap modal yang relatif rendah dan rasio
harga per free cashflow rendah. Artinya, perusahaan bisa menghasilkan
kas dalam jumlah besar untuk membiayai operasional perusahaan dan
melakukan ekspansi tanpa perlu mengandalkan pinjaman dari luar yang
berbiaya tinggi. Rasio debt/capital yang rendah juga memungkinkan
perusahaan menghasilkan cashflow yang lebih sehat dan tak terlalu
sensitif dengan pergerakan suku bunga.

Sampai tahap ini, mungkin tinggal 10-15 perusahaan saja yang tersisa
di tangan Anda.
Memprediksi Harga Wajar Saham

Asumsikan Anda sudah menemukan 10-15 perusahaan terbaik menurut Anda.
Lalu, bagaimana cara untuk menentukan harga wajar saham tersebut?
Pertama, tentukan earning per share (EPS) dan tren pertumbuhannya
untuk 5 tahun ke depan. Kalau pertumbuhannya di atas 15%, gunakan rate
15%; sementara bila pertumbuhannya di bawah 10%, gunakan rate 10%.
Kalikan untuk melihat future value pada akhir tahun kelima.

Setelah menemukan EPS pada akhir tahun kelima, kalikan dengan price
earning ratio (PER) pada tahun tersebut. PER pada tahun tersebut
dihitung dengan aturan sederhana; bila PER kurang dari 20%, gunakan
rate 12%; bila PER lebih dari 20%, gunakan rate 17%. Selama ini,
penelitian menunjukkan sangat jarang perusahaan membukukan PER tinggi
lebih dari 17% selama bertahun-tahun. Setelah dikalikan, Anda akan
menemukan perkiraan harga saham pada akhir tahun kelima.

Selanjutnya, tentukan berapa value sebenarnya saham tersebut. Caranya,
tambahkan perkiraan harga saham pada akhir tahun kelima dengan dividen
yang diperoleh. Dividen dihitung dengan menjumlahkan EPS selama lima
tahun dikalikan dengan dividen payout ratio (DPR). Setelah ketemu fair
value saham tersebut pada akhir tahun kelima, tinggal mendiskontokan
ke nilai sekarang dengan target (hurdle rate) yang kita inginkan.

Simulasi Fair Value Saham
http://i47.photobuc ket.com/albums/ f198/adeanshori/ simulasi- harga-saham. jpg

Perhatikan contoh berikut. Dengan menggunakan hurdle rate 15%, yaitu
mengasumsikan saham perusahaan akan memberikan return 15% secara
kontinu, saham TLKM bisa dibeli di bawah harga Rp 10.500. Sementara
dengan hurdle rate 20%, saham TLKM harus dibeli di bawah harga Rp
8.500. Nah, bila harga saat ini Rp 9.700, kalau mengharap return
setidaknya 15% per tahun, Anda boleh membeli sekarang. Namun, bila
Anda mengharapkan return setidaknya 20%, Anda harus menunggu sampai
harganya turun ke Rp 8.500.

Tentu saja perhitungan tersebut masih sangat kasar. Saya juga
menghitung hanya dengan corat-coret. Selain itu, rate yang saya
gunakan sangat konservatif karena banyak dari saham tersebut memiliki
pertumbuhan EPS dan PER sangat tinggi. Bisa jadi, harga yang nantinya
terbentuk jauh melampaui perhitungan tersebut. Tapi setidaknya
simulasi di atas bisa jadi acuan untuk menaksir harga wajar suatu saham.

Setelah menemukan 5-7 saham terbaik yang memenuhi hurdle rate Anda dan
diperdagangkan di bawah nilai intrinsiknya, buy as much as you can.
Hold untuk waktu yang lama. Insya Allah 4-5 tahun investasi Anda mulai
menunjukkan hasil.
Last but Not Least

Invest your time before invest your money. Sebelum terjun beneran, ada
baiknya untuk meluangkan waktu belajar, membaca buku, mengikuti
workshop, dan menggali lebih banyak informasi lain. [Promosi: Saya
sedang menulis buku lebih detil soal saham. Mohon doa restu,
mudah-mudahan bisa segera terselesaikan.🙂 ]

Jangan lupakan juga aturan dasar dalam berinvestasi: beli perusahaan
bagus dengan harga diskon. Don’t be afraid to wait. Cari timing bagus
yang memungkinkan Anda membeli di harga murah, misalnya bulan-bulan
Januari-Februari. Kalau Anda bisa membeli murah, walaupun harga t
idak
naik, Anda tetap melakukan “best buying” dan tetap mendapatkan potensi
keuntungan melalui dividen.

Bagaimana dengan pergerakan naik turunnya harga? Saya sendiri tak
terlalu memedulikan. John Bogle, dalam tesisnya sewaktu masih di
Princeton, mengatakan bahwa dalam jangka pendek harga akan selalu
bergerak mengikuti psikologi dan sentimen pasar. Namun dalam jangka
panjang, harga akan mencerminkan fundamental perusahaan itu sendiri.
Selama tembakan kita jitu, dalam jangka panjang, ia akan memberi
keuntungan yang cukup lumayan buat kita. Jangan tergoda untuk
keluar-masuk hanya karena fluktuasi harga. Lebih baik Anda fokus pada
pekerjaan lain atau mencari penghasilan alternatif untuk
diinvestasikan lagi ke portofolio Anda.

Walau terdengar klise, jangan lupa untuk selalu berdoa agar dibimbing
dalam membuat analisis dan keputusan investasi terbaik. Kalau
investasi Anda sudah sukses, jangan lupakan untuk sisihkan setidaknya
10% dari keuntungan Anda buat mereka yang kurang beruntung. Kalau ada
orang lain yang tertarik mencoba mengikuti jejak Anda, jangan
segan-segan untuk membagi ilmu dan pengalaman.
sumber : http://nofieiman. com/2008/ 03/investasi- saham-untuk- pemula/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: