Catatan Karate – Menyikapi Berdirinya FKTI

Sumber : Harian Umum Sinar harapan No. 3981 Edisi Selasa, 4 Desember 2001 JAKARTA – Olahraga bela diri karate berasal dari Jepang. Olahraga itu mencapai ”booming” pada tahun 1950-an. Karate menyebar ke seluruh dunia, termasuk ke Indonesia. Ada yang bilang orang pertama yang membawa karate ke Indonesia adalah Mochtar R. Teori ini dimentahkan oleh kenyataan bahwa ketika Mochtar memasukkan karate ke Indonesia, olahraga itu sendiri sudah dimainkan di sini. Mereka berlatih bersama di Jakarta Karate Club. Sejumlah mahasiswa Indonesia di Jepang juga mendirikan Indonesian Karate Club. Baru pada 1964, sejumlah karateka mendirikan PORKI (Persatuan Olahraga Karate Indonesia) yang berafiliasi ke JKA (Japan Karate Association) dan beraliran shotokan. Aliran itu dipopulerkan Funakoshi dan diturunkan kepada Nakayama, yang menggelar kejuaraan karate pertama di Jepang pada 1957 atau hanya 12 tahun setelah Jepang luluh lantak dibom Sekutu. Shotokan merupakan salah satu dari empat aliran karate terbesar di Jepang, selain Wado, Goju dan Shito yang masing-masing ”beranak-bercucu” menjadi aliran-aliran kecil. Pada 1972, PORKI berubah menjadi FORKI (Federasi Karatedo Indonesia). PORKI sendiri berubah menjadi Inkai (Institut Karatedo Indonesia) karena sejak awal berafiliasi ke shotokan. FORKI merupakan payung bagi seluruh perguruan karate di Indonesia, yang kemudian diakui KONI Pusat dan dipertandingkan di PON 1973 untuk pertama kalinya walaupun peraturan pertandingannya tetap menggunakan peraturan PORKI. Pada 1984, Rudini menjadi ketua umum PB FORKI dalam kongres di Lampung. Saat itu pula, ia ”membumihanguskan” Inkai dan segala kegiatannya (termasuk turnamen karate Piala Bima Sakti yang batal digelar) demi kesatuan dan persatuan. Inkai diintervensi hanya karena Inkai mencoba mempertahankan kemurnian karate ketika FORKI menjadi karate umum yang berafiliasi ke WUKO dan telah mengadopsi sejumlah gerakan non-karate. Dengan kata lain, Rudini tidak dapat menghargai perbedaan. Setelah rezim Orde Baru jatuh, tokoh-tokoh karate yang mencintai kemurnian karate mencoba membentuk Federasi Karate Tradisional Indonesia (FKTI). Organisasi yang relatif baru ini membebaskan diri dari aliran sepanjang mereka sepakat pada satu aturan pertandingan yang baku dan murni. FKTI mencoba menjadi payung bagi mereka yang mendambakan kemurnian karate. Tak ada gading yang retak. Ironisnya, dalam tubuh FKTI sendiri terpecah dua: yang pro pada kemurnian karate yang didukung oleh tokoh-tokoh idealis dan yang pro pada perubahan yang didukung karateka muda yang lebih realistis. Minta Pengakuan FKTI menuntut kepada KONI Pusat agar diakui dan disejajarkan dengan FORKI. Pasalnya, FKTI memiliki 20-an Kordinatoriat Daerah dan konon puluhan juta anggota di Indonesia. Selain itu, FKTI memiliki kejuaraan dunia tersendiri, yang diselenggarakan ITKF. Persoalan menjadi agak ”complicated” karena KONI Pusat terkesan enggan mengakui eksistensinya. Hal ini menimbulkan asumsi bahwa KONI Pusat telah dipengaruhi PB FORKI yang tidak ingin hegemoninya tersaingi di Indonesia. Di sisi lain, ironisnya KONI Pusat dapat dengan mudah mengakui cabang-cabang olahraga yang sebenarya unsur olahraganya tidak sampai 25 persen. Kendati belum mendapatkan pengakuan KONI Pusat, FKTI tetap ”ndableg”. Mereka menggelar Munas dan Kejurnas sendiri. FKTI rencananya akan menjadi tuan rumah gashuku karate tradisional internasional dengan tajuk Borobudur Camp, 21-28 Januari mendatang. ”Kami hanya ingin menjaga kemurnian karate. Sumpah karate yang ada sekarang sudah diubah dan hampir tidak ada gunanya lagi belajar karate,” kata tokoh FKTI Sabeth Muchsin, yang juga ketua umum Yayasan Inkai. Ia menilai, beladiri karate yang ”beredar” saat ini sudah terlalu umum dan terjadi pendangkalan. Karena itu, karate membutuhkan pemurnian sehingga ”jiwa” dan filosofi karate (antara lain: berkepribadian, jujur dan berjalan di jalan yang benar) dapat diterapkan para karateka. Di balik semua itu, jika disimak lebih dalam, masalah ini hanyalah dampak dari pertentangan dua lembaga karate dunia. Yakni, ITKF (International Traditional Karate Federation) dengan WKF (World Karate Federation). ”Permusuhan” ini sudah berlangsung lama, sejak ITKF masih bernama IKF dan WKF masih bernama WUKO. Nama yang terakhir cenderung ingin menunjukkan hegemoninya di dunia. Caranya, dengan merangkul IOC (Komite Olimpiade Internasional). Namun setelah berhasil mendapatkan dukungan IOC, mereka menean ”lawannya” ITKF. Persoalan ini bisa menjadi sulit jika memang ingin dipersulit tapi juga bisa mudah jika ingin dipermudah. Mengingat karate memang memiliki karakter keras, bahkan mungkin sudah pecah dari ”sononya”, biarkan saja mereka mencari jati dirinya. Mengapa KONI Pusat harus membela salah satu dari mereka? (SH/Isyanto)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: