Sehati Sesuara Bangun Olahraga NTT

Catatan Akhir Tahun Olahraga

Oleh Sipri Seko

TANTANGAN terbesar bagi dunia olahraga NTT di awal tahun 2008 adalah persiapan menghadapi PON XVII 2008 di Kalimantan Timur. Prestasi delapan medali emas, empat perak dan empat perunggu yang direbut pada PON XVI 2004 lalu di Sumatera Selatan menjadi beban yang harus dihadapi.

Tak heran kalau kemudian para pelatih seperti George Hadjoh (kempo), Yusuf Naragale (tinju) dan Agus Petrusz (taekwondo) menginginkan agar pemusatan latihan dipercepat. Namun, ketiadaan dana di mana pada saat yang bersamaan NTT juga sedang melakukan pemilihan kepala daerah, membuat KONI Propinsi NTT tidak bisa berbuat banyak. Persiapan bermodalkan semangat, disiplin dan tekad untuk mengharumkan nama NTT di pentas olahraga nasional diakhiri dengan merebut tiga medali emas, empat perak dan enam perunggu.

Kalau ukurannya adalah prestasi PON XVI 2004, maka prestasi PON XVII 2008 ini jelas menurun. Tapi kalau ukurannya adalah persiapan dan kualifikasi atlet peserta, prestasi kali ini tetap disebut cukup membanggakan. Alasannya, lima perebut medali NTT pada PON XVI 2004, Oliva Sadi, Ferry Subnafeu, Kamilus Lero, Mansyur Yunus dan Yules Pulu, pindah ke Kalimantan Timur. Dua lainnya, Hermensen Ballo dan Morits Saubaki tidak ikut.  Ketidakhadiran atlet-atlet unggulan ini tidak membuat nyali anak-anak NTT ciut. Dengan semangat dan disiplin tinggi, atlet-atlet NTT yang rata-rata berusia di bawah 23 tahun bisa membawa pulang prestasi.

Prestasi di PON XVII diikuti atlet-atlet NTT yang berlaga di Pekan Olahraga Cacat Nasional (Porcanas) XIII 2008. NTT meraup tiga medali emas, satu perak dan satu perunggu. Simplisius Padji Abe tampil spektakuler dengan merebut tiga medali emas. Medali perak oleh Maria Kolloh dan perunggu direbut Tanty Yosefa.

Dari perjalanan olahraga NTT di tahun 2008, ada beberapa catatan prestasi tingkat nasional dan dunia yang berhasil diraih. Dari cabang tinju, NTT tampil spektakuler dengan merebut empat medali emas dalam Kejurnas STE di Denpasar-Bali lewat Yanto Fallo, Deni Hitarihun, Atris Neolaka dan Abniel Daniel. Selain itu, atlet-atlet PPLP NTT juga meraih hasil membanggakan di kejurnas antar-PPLPdi Manado. Dan, yang terakhir adalah dikirimnya Atris Neolaka dan Robinson Djo ke kejuaraan dunia di China.

Dari cabang atletik, Afriana Paijo merebut dua medali perak pada kejuaraan atletik pelajar Asia Tenggara (Asean School Championship) ke-23 di Danang, Vietnam. Selain itu, Mery Paidjo menempati peringkat kedua dalam Hongkong Marathon 2008 bersama Niko Silla. Dari cabang Taekwondo, Dudy merebut medali emas dan Jasson Hornay medali perungu di kejuaraan dunia Korea Open 2008.

Dari kempo, Kabupaten Kupang mencatat hasil spektakuler dengan menjadi juara umum kejurnas kempo antar-kota di Jakarta bulan November lalu. Binaraga juga tidak ketinggalan menorehkan prestasinya, ketika atlet Belu, James Abanit merebut medali perunggu dalam kejuaraan Ade Rai Siswa Raga dan Body Fitnes 2008 di Balai Sarbini, Jakarta, Agustus lalu.

Federasi Karate Tradisional Indonesia (FKTI) NTT juga meraih juara umum Menpora Cup II 2008 di Wonogiri-Jawa Tengah. FKTI NTT merebut 16 medali emas, tujuh perak dan tujuh perunggu. Karateka Nagekeo menjadi pengumpul medali terbanyak, yakni 13 emas yang direbut Yoktan Taneo (4 emas), Sovia Taneo (5 emas), Marlin Safrudin (2 emas, 1 perak dan 1 perunggu) dan Leni Djafra (2 emas, 1 perak, 1 perunggu). Catatan prestasi-prestasi ini belum termasuk kejuaraan antar- pelajar, olahraga usia dini, porseni SMP, Popnas, olimpiade olahraga siswa dan lainnya.

Dari sisi sumber daya manusia, di tahun 2008, NTT mengalami kemajuan. Kalau pada PON lalu, paling tidak hanya empat orang NTT yang menjadi wasit, kali ini di PON XVII 2008, ada sebelas putra NTT yang menjadi wasit. David Radja (tinju) dan Ferdy Amatae (pencaksilat) malah menjadi ketua pertandingan di cabangnya. Ferdy Amatae, beberapa kali juga dikirim memimpin pertandingan di luar negeri. Ada juga wasit asal Ende, Hermino Mau yang menjadi wasit renang pada Asian Beach Game 2008 di Bali. Selain itu, pelatih atletik NTT, Frans Sales dan Soleman Natonis juga dipilih mendampingi atlet Indonesia ke luar negeri.

***
Lalu, apakah geliat olahraga NTT di tahun 2008 ini berjalan mulus? “Kalau saja kita sedikit prihatin dengan kondisi daerah dan berlatih atau mengurus olahraga tanpa pamrih, saya yakin NTT akan menjadi lumbung atlet di Indonesia.” Itu komentar dari mantan atlet tinju, Hermensen Bertolens Ballo, S.H.

Dari sisi pencapaian prestasi, dari semua keikutsertaan atlet-atlet NTT di kejuaraan tingkat nasional tidak semuanya berhasil. Di PON XVII, tinju yang ditargetkan meraih lebih dari dua medali emas, ternyata hanya membawa pulang satu. Pencaksilat yang dikoar-koarkan akan membawa pulang emas, ternyata gagal total, termasuk taekwondo yang meloloskan delapan atlet, namun hanya bisa merebut dua perunggu. Dari kejuaraan lainnya, seperti Popnas, kejurnas atletik, kejurnas atletik antar- PPLP dan lainnya, hampir semuanya belum memberikan hasil yang menggembirakan.

Lalu, apa faktor atau penyebab kegagalan itu? Selain dana, disiplin, kemauan, initeligensi atlet/pelatih dan kemampuan menyerap teknologi masih kurang. Ada atlet atau cabang yang latihannya keras, disiplin, terjadwal dan terprogram dengan baik, namun mereka masih kurang dalam pemahaman teknologi baik digital maupun forensik. Mereka hanya berlatih, berlatih dan terus berlatih tapi tidak pernah memperhitungkan kapan puncak performanya. Akibatnya, terkadang mereka habis- habisan hanya untuk latihan sehingga tak mampu berbuat banyak saat pertandingan.

Ada juga yang yang menguasai teknologi, namun kualitas, pengalaman dan inteleginsinya masih jauh di bawah. Ada yang memiliki dana yang cukup, namun tidak mempunyai program latihan sehingga terkesan hanya untuk menghabiskan dana. Namun, ada pula yang karena kemauan atau fanatisme untuk berprestasi masih sangat kurang.

Satu lagi masalah klasik yang terjadi dalam pembinaan olahraga di NTT adalah manajemen organisasi. Banyak pengurus hanya sekadar nebeng nama dalam struktur, namun tak tahu harus berbuat apa. Ada juga yang masih memanfaatkan olahraga untuk tunggangan politis. Yang memprihatinkan adalah mereka yang menjadikan olahraga di NTT sebagai tempat mencari nafkah sehingga tidak total ketika dana tidak ada.

Lalu, apa yang harus dilakukan di tahun 2009? Perhelatan politik masih akan memanas. Pemilihan anggota legislatif dan presiden akan menyita energi. Namun harus diingat bahwa akan ada pekan olahraga (POR) daratan. Daratan Timor akan digelar di Belu, Flores-Lembata di Sikka dan Sumba, Alor, Rote di Rote atau Alor. POR Daratan harus menjadi awal prestasi NTT. Atlet potensial harus dijaring sebanyak mungkin. Pembinaan harus lebih fokus. Cabang-cabang super prioritas harus lebih dimaksimalkan.

Dan, yang terpenting adalah ‘menekan’ pemerintah agar alokasi dana untuk olahraga dinaikkan. UU Nomor 3 tahun 2005 tentang Sistem Keolahragaan Nasional sudah mewajibkan adanya alokasi dana untuk olahraga. Untuk yang satu ini, tampaknya kita tak perlu khawatir. Drs. Frans Lebu Raya dan Esthon Foenay adalah duet yang sangat paham tentang pembinaan olahraga di NTT. Bukankah kita harus ‘Sehati Sesuara Membangun NTT Baru? Salam Olahraga! *

Persiapan Menghadapi Kejurnas Jakarta 22 Atlet FKTI NTT TC di Surabaya

KUPANG, Timex-Sebanyak 22 atlet karate tradisional yang bernaung di bawah payung Federasi Karate Tradisional Indonesia (FKTI), Koordinator Daerah (Korda) NTT, akan dipersiapkan mengikuti kejuaraan nasional (kejurnas) karate tradisional Menpora Cup II di Jakarta. Untuk itu, ke-22 atlet (6 putri) yang sukses meraih prestasi pada pelaksanaan Kejuaraan Daerah (Kejurda) FKTI di Maumere-Sikka 2008 itu akan disiapkan secara khusus melalui Trainning Centre (TC) atau pemusatan latihan di Surabaya.

Ketua Umum Korda FKTI NTT, Frans Fernando kepada koran ini di Kupang, Rabu (16/7) malam lalu mengatakan, ke-22 atlet karate tradisional yang akan mengikuti TC ini berasal di delapan koordinator cabang (Korcab) di NTT, yakni Korcab Kabupaten Kupang (1 atlet), Sikka (3 atlet), Ende (2 atlet), Nagekeo (2 atlet), Ngada (3 atlet), Manggarai (6 atlet), Manggarai Barat (1 atlet), dan Sumba Barat (4 atlet).

“Para atlet yang kita (FKTI NTT, Red) rekrut untuk mengikuti TC itu diharapkan tanggal 27 Juli sudah berada di Surabaya untuk berlatih bersama atlet-atlet karate Surabaya. TC di Surabaya itu akan dilakukan di GOR Kertajaya hingga tanggal 16 Agustus 2008, selanjutnya tanggal 18 Agustus bertolak ke Jakarta untuk mengikuti kejurnas yang akan dihelat mulai dari tanggal 20 – 23 Agustus 2008,” ungkap Fernando yang saat itu didampingi Ketua Majelis Sabuk Hitam (MSH) Korda FKTI NTT, Wempy Ello (Dan V).

Frans Fernando mengatakan, tujuan melakukan TC ke Surabaya ini dengan maksud untuk memperbanyak kegiatan latih tanding bersama atlet-atlet karate tradisional Jawa Timur. “Selain itu dimaksudkan agar ketika akan berangkat ke Jakarta, anak-anak (atlet) tidak lelah dalam perjalanan, dan cepat beradaptasi dengan alam Jakarta,” jelas Frans Fernando yang juga pemegang sertifikat pelatih/penguji dan wasit/juri internasional ini. Selama TC di Surabaya, menurut Frans Fernando (Dan VII), para atlet akan dibimbing langsung dirinya sebagai pelatih kepala, bersama Wempy Ello (Dan V) serta Agus Ramahuti (Dan IV) asal Manggarai.

Frans Fernando menyebutkan, ke-22 atlet yang dipersiapkan ini adalah para atlet senior, karena even yang dilaksanakan itu adalah kejurnas senior. Kejurnas ini, demikian Fernando juga dilaksanakan dalam rangka mencari atlet karate tradisional terbaik Indonesia dikelasnya yang akan dipersiapkan mengikuti kejuaraan dunia karate tradisional (ITKF) tanggal 12-15 Oktober 2008 nanti di Lithuania.

Selain itu juga, tambah Fernando, ajang kejurnas ini juga untuk menyeleksi atlet yang akan dipersiapkan mengikuti kejuaraan karate Asian Oceania di Bangkok, tanggal 18 Desember 2008 nanti, termasuk kesiapan mengikuti kejuaraan dunia senior/yunior di Tokyo-Jepang bulan September 2009.

Menyinggung soal kesiapan dan target NTT di kejurnas Menpora Cup II nanti, menurut Frans Fernando, dirinya optimistis atlet-atlet FKTI NTT dapat memboyong trofi Menpora Cup ke NTT, mengingat mereka yang akan dibwa itu adalah atlet-atlet karate tradisional berprestasi yang dimiliki NTT saat ini, berdasarkan hasil Kejurda lalu di Maumere.

Fernando juga mengungkapkan, ke-22 atlet karate tradisonal NTT yang akan dibawa ini akan turun disemua kelas yang dipertandingkan, yakni kelas Hukugo Coomitte (putra/putri), Kogo Coomitte (putra/putri), Komite Perorangan (putra/putri), Komite Beregu (putra), Kata Beregu (putra/putri), Embu Berpasangan (putra), Embu Berpasangan (putri), Kata Perorangan (putra/putri) serta Kata Beregu (putra/putri). “Jadi kita akan turun disemua kelas yang dipertandingkan nanti.

Dan uniknya, kelas-kelas ini dipertandingkan tidak menggunakan sistem kelas berat badan, tapi semuanya kelas bebas. Inilah yang membedakan karate di bawah FKTI dengan karate di bawah FORKI. Kalau di FORKI dengan sistem kelas berat badan, di FKTI tidak. FKTI juga memiliki badan dunia yang disebut ITKF (International Traditional Karate Federation), sedangkan FORKI berada di bawah World Karate Federation (WKF),” beber Fernando.

Untuk diketahui, Kejurda FKTI senior/yunior di Maumere-Sikka, diikuti 10 Korcab, yakni Kota Kupang, Kabupaten Kupang, Sikka, Ende, Nagekeo, Ngada, Manggarai Timur, Manggarai, Manggarai Barat dan Sumba Barat. Juara umum Kejurda ini direbut kontingen Korcab Nagekeo.

(aln)

Gubernur Isyaratkan FKTI Ikut Pordaratan

KUPANG, Timex-Atlet karate tradisional dibawah Koordinator Daerah (Korda) Federasi Karate Tradisional (FKTI) NTT yang sukses merebut trofi Menpora Cup dalam Kejurnas Karate Tradisional di Wonogiri-Jawa Tengah boleh bersyukur. Pasalnya, jerih payah yang mereka torehkan diajang nasional itu membuat Pemerintah Provinsi NTT memberi apresiasi berupa pemberian bonus kepada 12 karateka tradisional NTT yang sukses mendulang medali diajang yang diikuti 318 atlet dari 15 provinsi se Indonesia itu.

Bonus yang diterima para atlet bervariasi. Peraih medali emas mendapat Rp 7,5 juta, perak Rp 6 juta dan perunggu Rp 5 juta. FKTI NTT sukses merebut juara umum setelah mendulang 9 emas, 4 perak dan 3 perunggu. Bonus yang diterima para atlet FKTI ini diserahkan secara simbolis oleh Gubernur NTT, Frans Lebu Raya saat menerima pimpinan kontingen dan para atlet di ruang kerja Gubernur NTT, Jumat (29/8) lalu.

Saat itu kontingen FKTI NTT dipimpin pembinanya, Kol.Inf. Winston P. Simanjuntak, Ketua Umum FKTI NTT, Frans Fernando, Ketua MSH, Wempy Ello dan salah satu pengurus lainnya.
Dalam dialog dengan pembina FKTI NTT dan para atlet, Gubernur NTT, Frans Lebu Raya mengungkapkan kebanggaannya atas prestasi yang dibuat kontingen FKTI NTT di arena nasional.

“Prestasi tidak datang dengan sendirinya, tapi melalui proses perjuangan yang panjang dan harus dengan semangat juang yang tinggi. Karena itu, sebagai Gubernur, saya menyambut gembira hasil yang sudah dibuat para atlet dalam mengharumkan nama NTT.

Dan bagi yang sudah berprestasi, perlu mendapatkan penghargaan. Mengharumkan nama daerah itu penting,” kata Lebu Raya. Dengan demikian, lanjutnya, meskipun penghargaan yang diberikan pemerintah tak seberapa nilainya, namun itu harus dijadikan sebagai motivasi untuk terus meningkatkan prestasi yang ada. “Setiap atlet harus menanamkan semangat juang yang tinggi, tidak saja dalam diri sebagai atlet, tapi pada semua segi kehidupan kita,” tandas mantan Wagub NTT ini.

Ketika mendengar permintaan Ketua Umum FKTI NTT, Frans Fernando yang meminta agar ke depan cabang olahraga karate tradisional (FKTI) ini bisa dimainkan di Pekan Olahraga Daratan (Pordaratan) sebagai upaya pembinaan, penjaringan atlet potensial, dan untuk peningkatan prestasi yang ada, Gubernur menyambutnya dengan suatu isyarat setuju.

“Saya memahami upaya yang tengah diperjuangan FKTI untuk diakui di KONI. Namun, bagi saya, sepanjang untuk tujuannya positif, kita dukung saja. Kalau misalkan ada beberapa provinsi yang mendukung, suatu saat nanti FKTI juga akan diakui KONI. Terkait dengan FKTI bisa ditandingkan di Pordaratan, saya rasa tidak masalah. Semuanya bisa diatur. Nanti kita diskusikan lagi dengan KONI NTT,” pungkas Wakil Ketua Umum II KONI NTT ini.

Untuk diketahui, pada kejurnas karate tradisional Menpora Cup II 2008, yang berlangsung di Wonogiri-Jawa Tengah, 23 – 24 Agustus 2008 lalu, NTT berhasil merebut 9 medali emas, 4 medali perak serta 3 medali perunggu, dan sukses memboyong trofi Menpora Cup. Dan atas keberhasilan ini, FKTI Pusat mempercayakan NTT untuk mewakili Indonesia dalam kejuaraan karate Asian-Oceania di Bangkok-Thailand, tanggal 18 Desember 2008, dan kejuaraan dunia karate senior/yunior di Tokyo-Jepang bulan September 2009 nanti. (aln)

FKTI Gelar Kejurnas Yunior dan Usia Dini

Kamis, 15 Januari 2009 | 01:27 WIB

Jakarta, Kompas – Federasi Karate Tradisional Indonesia yang berdiri sejak tahun 1970 kembali akan menggelar Kejuaraan Nasional Karate Tradisional Yunior dan Usia Dini mulai Sabtu (24/1) hingga Minggu (25/1) di Gedung Senam Raden Inten, Jakarta Timur.

”Hingga saat ini, dari 24 korda (koordinator daerah) FKTI (Federasi Karate Tradisional Indonesia) yang ada di Indonesia, baru 12 korda yang memastikan keikutsertaan. Mungkin paling banyak hanya 14-15 korda yang ambil bagian di kejurnas kali ini,” ucap K Bambang Setiadi, Ketua Kejurnas Karate Tradisional Yunior dan Usia Dini, Rabu (14/1).

Dalam Kejurnas Karate Tradisional 2009 yang akan memperebutkan Piala SECOM II dan Piala Gubernur II akan dipertandingkan nomor fukugo (kombinasi), kata (jurus), dan kumite (tarung bebas) untuk kategori yunior. Kategori ini terdiri dari tingkat SMP (13-15 tahun) dan tingkat SMA (16-18 tahun).

”Sedangkan untuk usia dini yang batas usianya dari 9 tahun sampai 12 tahun akan dipertandingkan nomor kata dan kumite,” kata R Suparlan, Sekretaris Jenderal FKTI.

Selain Kejurnas Yunior dan Usia Dini, pada 22 dan 23 Januari, FKTI juga akan mengadakan ujian untuk karateka tradisional yang sudah mencapai tingkatan Dan V ke atas.

Acara yang lebih dikenal dengan Januari Master Camo tersebut akan dilaksanakan di Graha Wisata Remaja Kuningan, Jakarta Selatan. ”Tahun ini ujian untuk memperoleh Dan V akan diikuti 4 karateka dari Sulawesi Tengah, Jawa Tengah, serta Daerah Istimewa Yogyakarta. Begitu juga dengan Dan VI serta dan VII yang masing-masing bakal diikuti 4 karateka,” ujar Bambang.

Belum diterima

Pada kesempatan tersebut Sabeth Mukhsin, Ketua Umum FKTI, juga menyampaikan masalah belum diterimanya FKTI oleh KON/KOI sekalipun pengajuan dengan surat resmi sudah disampaikan sejak tahun 1984 dan diulangi kembali tahun 2004. ”Tetapi, hingga saat ini belum dijawab. Padahal, di negara tempat asal olahraga bela diri ini lahir, ada dua federasi, yakni untuk karate umum itu JKF dan untuk karate tradisioanlnya itu JTKF,” ungkap Sabeth.

Bahkan, IOC sendiri juga telah membedakan antara karate tradisional dan karate umum. Itu sebabnya kejuaraan dunia untuk karate tradisional juga ada sejak lama, selain karate umum. Tahun lalu kejuaraan dunianya digelar di Vilnius, Lituania, 11 dan 12 Oktober.

Sabeth juga menjelaskan bahwa perbedaan karate umum dan tradisional sangat jelas terlihat di nomor kumite. Dalam kumite, karateka tradisional tidak langsung menarik kembali pukulannya, sedangkan karateka umum harus cepat kembali. (NIC)

Dua Pendekar Jember Langganan Menjadi Juara Karateka Tingkat Nasional

Semangat Sempat Drop karena Tidak Pernah Juara

Jember ternyata mempunyai banyak atlet berprestasi tingkat nasional. Yang mungkin tidak banyak orang tahu, di antaranya adalah dua atlet karateka yang masih muda ini.

WISNU PRIYONO, Jember

———————————————————————

“AWALNYA tidak ada niatan khusus untuk mendalami olahraga keras ini. Saya hanya iseng dan coba-coba. Tapi ternyata lama-lama asyik juga. Tapi saya masih belum apa-apa kok,” ungkap Avant Jaya yang tinggal di Jl Semeru IX ini.

Boleh dibilang Avant adalah anak pemalu. Bagaimana tidak, beberapa kali saat ditanya tentang keaktifan dan prestasinya di dunia olahraga, dia selalu bilang merasa malu kalau nanti berita tentang dirinya diberitakan di koran. “Duh, isin aku Mas,” ujarnya tersenyum.

Terjun di dunia karate sudah dimulai Avant sejak kelas tiga SD. Waktu itu hanya sekadar ikut-ikutan karena banyak teman di sekolahnya ikut karate sebagai kegiatan ekstrakurikuler.

Namun, keseriusan menjadi seorang karateka dia rasakan setelah ikut bertanding di sebuah kejuaraan. Tidak tanggung-tanggung, pertandingan pertama yang dia ikuti adalah Kejuaraan Daerah (Kejurda) Tingkat Jawa Timur, di mana dalam pertandingan tersebut atlet-atlet andalan dari berbagai kota di Jawa Timur beradu ketangkasan menjadi yang terbaik di kelasnya masing-masing.

Namun sayang, saat itu dirinya belum berhasil meraih prestasi seperti yang diinginkan. “Setelah pertandingan itu saya kok merasa enjoy. Karena senang, jadi ya diteruskan,” ungkapnya sembari menjelaskan bahwa kejuaraan pertama tersebut dilaksanakan di kota Jombang.

Ternyata ketidakberhasilannya dalam meraih hasil di kejuaraan tersebut semakin membangkitkan semangatnya dalam meraih mimpi menjadi karateka yang tangguh dan berprestasi. “Sejak saat itu saya mulai rajin berlatih,” ungkap siswa kelas 9 SMPN 3 Jember itu bersemangat.

Meski kini dirinya menyandang status sebagai atlet nasional, namun tidak serta-merta jiwa anak-anaknya begitu saja menghilang. “Kalau sudah kumat malesnya, biasanya berat mau latihan. Pengennya sih main sama teman-teman di rumah,” kata karateka penyandang sabuk hitam DAN 1 ini.

Kalau sudah begitu, giliran orang tua yang memberi nasihat sekaligus semangat kepadanya agar tidak malas berlatih. “Bapak sama ibu pasti tidak pernah lupa mengingatkan saya untuk berlatih,” ujar putra pasangan Bambang Suharsono dan Erni Dwi S ini.

Bambang mengakui, terkadang ada kalanya putranya tersebut tiba-tiba tidak bersemangat untuk berlatih. Apalagi kalau sudah dihadapkan pada kegiatan sekolah yang sifatnya akademis, pasti konsentrasi bakal terpecah.

“Kalau sudah terbentur antara pertandingan dan ujian di sekolah, biasanya Avant mulai sulit berkonsentrasi,” katanya. Kalau sudah begitu, support dan nasihat tidak pernah berhenti diberikan olehnya.

Dia juga sempat menceritakan kejadian yang dianggapnya menarik tentang putranya itu. Ceritanya, sekitar kelas enam SD, Avant pernah curhat kepada dirinya untuk tidak melanjutkan berlatih karate lagi. Hal ini disebabkan karena setiap mengikuti pertandingan tidak pernah dapat juara.

“Dia bilang kok ga dapet-dapet juara, padahal sudah sering ikut kejuaraan” kata pria berkumis itu. Namun karena dia tahu bakat terpendam yang dimiliki anaknya, dengan sabar dia berusaha memompa kembali semangat putranya agar tekun berlatih.

Tidak sia-sia, dengan keuletan dan kesabarannya, kini Avant telah berhasil menjadi atlet andalan kota Jember. Beberapa prestasi yang pernah ia raih di antaranya juara 1 Kumite Perorangan Putra Pemula Malang Open Tahun 2008, juara 3 Kumite Perorangan Putra – 40 Kg Pemula Kejurnas Piala Gubernur III di Jombang 2007, juara 2 Kumite – 40 Kg Pemula Putra Kejuaraan Piala Walikota Surabaya V 2008, juara 3 Kumite – 40 Kg Putra Kejuaraan Pekan Olahraga Pelajar Daerah VII di Surabaya 2008, juara 3 Kumite Perorangan Putra – 40 kg Pemula di Kejurnas Piala Gubernur Jawa Timur IV di Jombang.

Tidak hanya Avant, Faizah Fananda yang notabene siswa kelas VIII SMPN 3, kini menjadi andalan kota Jember dalam olahraga karate. Kecintaannya di dunia ini dimulai sejak dirinya masih duduk di bangku SD.

“Karena di rumah tidak ada kegiatan, jadi ya saya isi dengan karate,” ungkap gadis yang pernah menjadi ketua osis saat duduk di bangku kelas VII ini. Dia juga mengaku semangatnya semakin tinggi karena sang pelatih pernah bilang kalau dirinya berbakat dalam olahraga karate.

Seperti halnya Avant yang coba-coba, Faizah pun mengakui awalnya niatan terjun di dunia karate juga sama. “Saya merasa karate itu unik,” ungkap gadis yang mengaku masih “single” ini. Hal tersebut lantaran, menurut dia, karate bisa mengombinasikan antara gerakan keras dengan lembut menjadi satu bagian.

Karena itulah dalam satu pertandingan dia selalu mengikuti lebih dari satu kelas yang dipertandingkan. Yaitu kelas kata dan kelas kumite. Maka tidak salah jika kini dirinya mengoleksi banyak piala ataupun medali yang diperolehnya saat menjuarai kejuaraan karate diberbagai daerah.

Di antaranya adalah juara 3 Kumite – 50 Kg Putri Piala Korps Marinir di Surabaya tahun 2006, juara 3 Kata dan juara 1 Kumite – 50 kg putri di Kejurnas Piala Gubernur III tahun 2007 di Jombang, juara 1 kata dan juara 3 kumite – 50 kg putri di Kejurnas Piala Wali Kota Cup tahun 2008, juara 3 Kumite Olimpiade Olahraga dan Seni Nasional tahun 2008 di Surabaya.

Dengan mengikuti kejuaraan di berbagai daerah, dia mengaku semakin banyak pengalaman yang menarik. “Sekarang saya bisa kenal dengan atlet-atlet nasional maupun internasional,” ujarnya. Karena itulah dia mengaku banyak sekali mendapatkan ilmu-ilmu baru tentang karate.

Sebagai atlet, baik Avant maupun Faizah, mengaku memiliki kesamaan problem dalam menghadapi sebuah kejuaraan. “Paling nervous kalau di pertandingan lawannya adalah atlet yang sudah terkenal,” kata Avant. Tapi itu terjadi di menit-menit awal, setelah itu sudah biasa lagi,” sambung Faizah. (*)