Panca Bali Krama

Menegakkan Nilai Kesucian, Bangun Keharmonisan Jagat
Pada Rabu Pahing Wuku Kuningan, 25 Maret 2009 mendatang –tepat pada Tilem Caitra/Kasanga — umat Hindu kembali menyelenggarakan upacara Tawur Panca Bali Krama di Pura Besakih. Karya ini digelar setiap 10 tahun sekali, yaitu pada Tilem Caitra/Kasanga ketika tahun Saka berakhir dengan 0 atau rah windhu.

Apa makna upacara ini? KETUA Sabha Walaka PHDI Pusat Ketut Wiana mengatakan, dalam Lontar Raja Purana, tawur agung yang diselenggarakan setiap 10 tahun itu disebut Panca Bali Krama, sedangkan dalam lontar yang lain disebut Panca Wali Krama. Inti dari tawur tersebut adalah caru. Caru dalam kitab Samhita Swara berarti ‘cantik’ yakni mengharmoniskan kembali. Dalam konteks ini, alam mesti diharmoniskan (butha hita), termasuk sesama individu umat (jana hita) menuju keharmonisan bersama (jagat hita). ‘Tawur agung Panca Bali Krama ini pada esensinya dalah upaya menuju hal-hal yang harmonis. Misalnya alam yang rusak mesti diperbaiki atau dilestarikan, hubungan sesama lebih diharmoniskan dan sebagainya. Jadi, tawur agung ini merupakan momen untuk melakukan evaluasi terhadap berbagai sistem kehidupan menuju yang harmonis. Atau mengingatkan umat kepada upaya penegakan aspek kehidupan,’ ujar Wiana yang dosen IHDN Denpasar ini.
Dalam hal ini pula, lanjut Wiana, umat perlu menerapkan konsep Tri Kona — Utpeti, Stiti, Pralina — yang lebih tajam. Artinya, perlu menciptakan (utpeti) sesuatu yang diperlukan, memelihara (stiti) hal-hal yang sesuai dengan keperluan zaman dan meninggalkan (pralina) sesuatu atau tradisi yang tidak cocok lagi dengan semangat zaman dalam rangka menegakkan Weda. ‘Weda itu sanatana dharma, kandungannya kekal abadi. Tetapi penerapannya notana, selalu diremajakan sesuai dengan perkembangan zaman,’ katanya.
Saat Terpilih
Sementara itu, Bali TV dalam program acara ‘Pablibagan’ yang ditayangkan Senin (23/2) kemarin juga mengangkat topik Karya Agung Panca Bali Krama dan Batara Turun Kabeh di Pura Agung Besakih 2009. Acara yang dipandu IB Putu Ardika itu menampilkan IBG Agastia, I Gede Marayana, Drs. I Putu Suwena, S.H. dan Drs. IGM Ngurah, M.Si. sebagai narasumber. Pada kesempatan itu, sastrawan yang juga tokoh agama IBG Agastia mengatakan sistem upacara umat Hindu di Bali terutama upacara-upacara besar seperti Panca Bali Krama, Eka Dasa Rudra dan yang lainnya diselenggarakan pada saat terpilih dan juga tempat yang terpilih. Ketika matahari dan bulan tepat di atas khatulistiwa — garis yang membelah bumi — itulah waktu yang dipilih untuk melaksanakan Karya Agung Panca Bali Krama (dilaksanakan 10 tahun sekali) maupun Eka Dasa Rudra (100 tahun sekali). Karya Agung ini dimaksudkan untuk mengharmoniskan segala unsur yang membangun jagat raya yang disebut Panca Mahabhuta dan Panca Tanmatra. Sehari setelah upacara besar itu umat Hindu memasuki tahun baru Saka.
Upacara agung seperti Panca Bali Krama dan Eka Dasa Rudra, katanya, pada hakikatnya dimaksudkan untuk menegakkan nilai-nilai kesucian, lalu membangun keharmonisan jagat yang disebut jagat hita, bhuta hita, sarwa prani hita. Semua hal itu diharapkan memberikan kerahayuan kepada manusia yang menempati bumi ini. Semoga isi jagat raya (sarwa prani) memberikan prana atau energi kerahayuan pada manusia dan seisi alam. ‘Jadi, ada landasasn filosofi atau tatwa yang mendasari upacara ini. Landasannya menyangkut konsep Panca Mahabhuta, Panca Tanmatra, Panca Brahma, Panca Giri dan Panca Indria,’ katanya.
Astronom I Gede Marayana menambahkan, upacara Panca Bali Krama merupakan upacara Bhuta Yadnya, salah satu dari Panca MahayadnyaDewa Yadnya, Bhuta Yadnya, Resi Yadnya, Pitra Yadnya dan Manusa Yadnya. Tujuannya adalah untuk mencapai bhuta hita atau jagat hita — keharmonisan kehidupan makhluk dan jagat raya ini (sarwa prani hita). Suatu keistimewaan dalam palaksanaan Panca Bali Krama saat ini yakni waktunya terangkai dengan hari raya Galungan dan Kuningan, bertemu dalam sasih Kasanga. Karena itu, lanjut Marayana, generasi umat Hindu Bali-Nusantara patut bersyukur dapat ikut serta melaksanakan upacara Tawur Agung Panca Bali Krama, karya yang sedemikian ‘langka’ karena pelaksanaannya secara periodik dalam kurun waktu tertentu — sepuluh tahun sekali.
Sepatutnyalah yasa-kerti yang dilakoni umat benar-benar nekeng-tuwas, menyatukan idep, sabda dan bayu, dalam menyukseskan karya tersebut. Sementara itu, Suwena mengatakan Karya Agung Panca Bali Krama jatuh pada 25 Maret 2009 yang dilanjutkan dengan prosesi Batara Turun Kabeh pada 9 April. Pada kesempatan itu, Suwena juga mengingatkan masyarakat bahwa setelah tanggal 20 Februari tidak diperkenankan melakukan upacara pengabenan, termasuk makinsan ring gni. Apabila setelah itu ada umat yang meninggal, jenazahnya dikubur secepatnya. Itu pun dilakukan malam hari atau setelah matahari terbenam. Apabila hal itu menimpa sulinggih seperti Ida Pedanda, Sri Empu termasuk pemangku, agar dilakukan dengan nyekah di rumah sesuai dresta masing-masing. ‘Dari 20 Februari hingga 27 April 2007 tidak boleh ada upacara pengabenan atau pembakaran mayat,’ katanya. (lun/ian)
Sumber: BaliPost, 24 Februari 2009

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: