Kihon

Kihon

Kihon (基本:きほん, Kihon?) secara harfiah berarti dasar atau fondasi. Praktisi Karate harus menguasai Kihon dengan baik sebelum mempelajari Kata dan Kumite.

Pelatihan Kihon dimulai dari mempelajari pukulan dan tendangan (sabuk putih) dan bantingan (sabuk coklat). Pada tahap DAN atau Sabuk Hitam, siswa dianggap sudah menguasai seluruh kihon dengan baik.

Teknik Karate

Teknik Karate

Teknik Karate terbagi menjadi tiga bagian utama : Kihon (teknik dasar), Kata(jurus) dan Kumite (pertarungan). Murid tingkat lanjut juga diajarkan untuk menggunakan senjata seperti tongkat (bo) dan ruyung (nunchaku).

Arti Dari Nama “Kata” dalam Karate

Name of Kata: Translation:

Heian : Peaceful Mind (Fikiran yang Damai)
Sochin : Energetic Calm (Tenang yang penuh Semangat)
Tekki : Iron Horse (Kuda Besi)
Nijushi-ho : 24 steps (24 Tahap/Langkah)
Bassai : Storm a Fortress (Menyerang sebuah Benteng)
Gojushiho-Sho : 54 steps (54 Tahap/langkah)
Kanku : To View the Sky (Memandang Langit)
Chinte : Many Hands (Banyak Tangan)
Jion : Named after a Temple in China (Nama sebuah Biara di China)
Unsu : Cloud Hands (Tangan-tangan Awan)
Empi : Flying Swallow (Burung Layang-layang sedang terbang)
Gankaku : Crane on a Rock (Bangau diatas Karang)
Jutte (Jitte) : Ten Hands (Sepuluh Tangan)
Meikyo : Polish a Mirror (Menggosok Cermin)
Hangetsu : Cresent Moon (Bulan Sabit)
Wankan : Kings Crown (Mahkota Raja)

Diambil dari: http://www.karatevid.com

Bagian Kepalan Tangan Sebagai Senjata

Bagian-bagian Kepalan yang dapat digunakan sebagai senjata adalah sebagai berikut:
-. bagian depan kepalan (seiken)
-. bagian belakang kepalan (uraken)
-. bagian bawah kepalan (kentsui, tetsui)

-. Tonjolan jari telunjuk (Ippon Ken)

-. Tonjolan jari tengah (Nakadaka Ken)

Berikut adalah gambar-gambarnya :

0405061

International Traditional Karate Federation

The International Traditional Karate Federation (or ITKF; known in Japanesa as Kokusai Dentō Karate Renmei ) is the international governing body for Traditional Karate. ITKF follow the teachings of shotokan‘s founder, Gichin Funakoshi. This organisation was founded by Hidetaka Nishiyama.

international_traditional_karate_federation_logo1

History

ITKF is the direct successor of the International Amateur Karate Federation (IAKF), which was established on September 27, 1974 at a constitutional meeting in New York City. This meeting was attended by the world’s national Karate federation representatives.

Six years before, in 1968, there had been growing worldwide interest for the formation of an international Karate federation that would also oversee the presentation of international competitions. At that time, in response to this increasingly worldwide interest, the American Amateur Karate Federation (AAKF), now the ITKF member from the United States, organized the World Invitational Karate-Do Tournament which was held at two sites, Los Angeles, California, U.S.A. and Mexico City, Mexico. The AAKF invited the team representatives from Asia, Europe, North and South America. It was this international tournament held in 1968 which was to be later recognized as the first truly world-scale competition. In addition, it was at this time that the participating international delegations met and agreed to form an international Karate organization. The date of the agreement was November 3, 1968. It was this agreement and the representatives involved that were to later form the basis for the formal constitutional formation of the IAKF in 1974.

The IAKF moved with deliberate and diligent purpose, as in 1975, when it mounted its First World Karate-Do Championship in Los Angeles, California. This tournament was followed in succession by World Karate-Do Championships in 1977 in Tokyo, Japan, 1980 in Bremen, West Germany and 1983 in Cairo, Egypt. The IAKF also moved to strengthen and revitalize the growth of the Traditional Karate sport on a continental level. This was done through IAKF Continental Organizations in Africa, Asia-Oceania, Europe and Pan America which mounted their own continental championships.

So as to more clearly differentiate and identify its exclusive and separate jurisdiction over the sport of Traditional Karate, the IAKF officially changed its name in May, 1986 to the International Traditional Karate Federation (ITKF).

ITKF Officials and Instructors

Instructor Rank Position Country Headquarters’ official site
Hidetaka Nishiyama 10th Dan Chairman U.S.A. ITKF
Dr. Vladimir Yorga 8th Dan Vice President Serbia ETKF, STKS
J. Michael Crowe General Secretary U.S.A. ITKF
Aiko Torii Treasurer U.S.A. ITKF
Rick Jorgensen 7th Dan Director Canada CTKF
Rajeev Sinha 7th Dan Director India TKFI
Sabeth Mukhsin 8th Dan Director Indonesia FKTI
Luciano Puricelli 6th Dan Director Italy FIKTA
Nobuhiro Tsurume 7th Dan Director Japan JTKF
Dr. Wlodzimierz Kwiecinski 7th Dan Director Poland TKFP
Kenneth Taylor 5th Dan Director U.K. UKTKF
Jorge Hernández 4th Dan Director Costa Rica ITKF Costa Rica

Gubernur Isyaratkan FKTI Ikut Pordaratan

KUPANG, Timex-Atlet karate tradisional dibawah Koordinator Daerah (Korda) Federasi Karate Tradisional (FKTI) NTT yang sukses merebut trofi Menpora Cup dalam Kejurnas Karate Tradisional di Wonogiri-Jawa Tengah boleh bersyukur. Pasalnya, jerih payah yang mereka torehkan diajang nasional itu membuat Pemerintah Provinsi NTT memberi apresiasi berupa pemberian bonus kepada 12 karateka tradisional NTT yang sukses mendulang medali diajang yang diikuti 318 atlet dari 15 provinsi se Indonesia itu.

Bonus yang diterima para atlet bervariasi. Peraih medali emas mendapat Rp 7,5 juta, perak Rp 6 juta dan perunggu Rp 5 juta. FKTI NTT sukses merebut juara umum setelah mendulang 9 emas, 4 perak dan 3 perunggu. Bonus yang diterima para atlet FKTI ini diserahkan secara simbolis oleh Gubernur NTT, Frans Lebu Raya saat menerima pimpinan kontingen dan para atlet di ruang kerja Gubernur NTT, Jumat (29/8) lalu.

Saat itu kontingen FKTI NTT dipimpin pembinanya, Kol.Inf. Winston P. Simanjuntak, Ketua Umum FKTI NTT, Frans Fernando, Ketua MSH, Wempy Ello dan salah satu pengurus lainnya.
Dalam dialog dengan pembina FKTI NTT dan para atlet, Gubernur NTT, Frans Lebu Raya mengungkapkan kebanggaannya atas prestasi yang dibuat kontingen FKTI NTT di arena nasional.

“Prestasi tidak datang dengan sendirinya, tapi melalui proses perjuangan yang panjang dan harus dengan semangat juang yang tinggi. Karena itu, sebagai Gubernur, saya menyambut gembira hasil yang sudah dibuat para atlet dalam mengharumkan nama NTT.

Dan bagi yang sudah berprestasi, perlu mendapatkan penghargaan. Mengharumkan nama daerah itu penting,” kata Lebu Raya. Dengan demikian, lanjutnya, meskipun penghargaan yang diberikan pemerintah tak seberapa nilainya, namun itu harus dijadikan sebagai motivasi untuk terus meningkatkan prestasi yang ada. “Setiap atlet harus menanamkan semangat juang yang tinggi, tidak saja dalam diri sebagai atlet, tapi pada semua segi kehidupan kita,” tandas mantan Wagub NTT ini.

Ketika mendengar permintaan Ketua Umum FKTI NTT, Frans Fernando yang meminta agar ke depan cabang olahraga karate tradisional (FKTI) ini bisa dimainkan di Pekan Olahraga Daratan (Pordaratan) sebagai upaya pembinaan, penjaringan atlet potensial, dan untuk peningkatan prestasi yang ada, Gubernur menyambutnya dengan suatu isyarat setuju.

“Saya memahami upaya yang tengah diperjuangan FKTI untuk diakui di KONI. Namun, bagi saya, sepanjang untuk tujuannya positif, kita dukung saja. Kalau misalkan ada beberapa provinsi yang mendukung, suatu saat nanti FKTI juga akan diakui KONI. Terkait dengan FKTI bisa ditandingkan di Pordaratan, saya rasa tidak masalah. Semuanya bisa diatur. Nanti kita diskusikan lagi dengan KONI NTT,” pungkas Wakil Ketua Umum II KONI NTT ini.

Untuk diketahui, pada kejurnas karate tradisional Menpora Cup II 2008, yang berlangsung di Wonogiri-Jawa Tengah, 23 – 24 Agustus 2008 lalu, NTT berhasil merebut 9 medali emas, 4 medali perak serta 3 medali perunggu, dan sukses memboyong trofi Menpora Cup. Dan atas keberhasilan ini, FKTI Pusat mempercayakan NTT untuk mewakili Indonesia dalam kejuaraan karate Asian-Oceania di Bangkok-Thailand, tanggal 18 Desember 2008, dan kejuaraan dunia karate senior/yunior di Tokyo-Jepang bulan September 2009 nanti. (aln)

KONI Pusat Harus Akui INKAI FKTI

Sumber (Media Kepri, Kamis 4 Agustus 2005) dikirim pada tanggal 20-11-2007

CATATAN DARI KONGRES FKTI II BOROBUDUR Kongres FKTI II Borobudur Camp 2005 telah berakhir. Banyak poin penting yang dihasilkan di dalam kongres di Magelang 3-10 Juli 2005 tersebut. Di bawah ini catatan beberapa poin penting kongres FKTI II, yang diperoleh MEDIA KEPRI dari salah seorang peserta Kongres dari Karimun, Simpai Tito Rabu (4/8)