Ida Bhatara Turun Kabeh

Iklan

Bhatara Turun Kabeh

Bhatara Turun Kabeh, 9 April 2009
Upacara Ida Bhatara Turun Kabeh yang dilaksanakan hari ini, Wraspati Paing Medagnsia, Kamis 9 April 2009, merupakan upacara berkala di Pura Agung Besakih yang diselenggarakan setiap tahun pada Purnama Kadasa. Biasanya upacara Ida Bhatara Turun Kabeh dilaksanaan berlanjut dengan upacara Tawur Kasanga (Tawur Tabuh Gentuh) pada Tilem Kasanga setiap tahun. Urutan upacaranya lebih sederhana dibandingkan dengan tahun 2009 yang merupakan kelanjutan dari upacara Tawur Agung Panca Bali Krama.
Upacara berkala Ida Bhatara Turun Kabeh, setiap tahunnya, diawali dengan upacara Nuwasen Karya, Ngingsah, Negtegang lan Ngunggahang Sunari, Nedunang Ida Bhatara, Melasti (dilakukan secara bergantian tiap tahun di Tegal Suci dan Toya Esah), Puncak Karya, Pangremek Karya, Nyejer lan Penganyar, dan ditutup dengan upacara Panyineban. Pada pelaksanaan Jkarya Ida Bhatara Turun Kabeh tahun 2009 yang dirangkai dengan Karya Tawur Agung Panca Bali Krama beberapa prosesi awal sepenuhnya dirangkai sebagai bagian dari Kerya Tawur Agung Panca Bali Krama lanjut kemudian setelah Pangremek Karya Ida Bhatara Nyejer dengan prosesi Penganyar selama 10 hari.
Pada hari ke 11 setelah Pangremek Karya, rangkaian Ida Bhatara Turun Kabeh dimulai dengan upacara Mapepada dan Pamemben pada tanggal 8 April 2009. Esok harinya, Wraspati Paing Medangsia – Kamis 9 April 2009 bertepatan dengan Purnama Kedasa, tibalah pelaksanaan puncak upacara Ida Bhatara Turun Kabeh. Secara garis besar tahap upacara terdiri dari 3 tahap (tigang palet) yaitu tahap satu upacara Ayun Widhi, pemujaan Ida Bhatara Turun Kabeh dilakukan oleh 5 orang Sulinggih yang memuja di Bale Gajah, tahap kedua adalah Ida Bhatara Tedun ke Paselang dengan pemujaan di Bale Paselang dipimpin oleh 2 orang Sulinggih dan tahap ketihga adalah upacara Ajang Agung yang merupakan upacara khusus dilakukan oleh 9 orang Pemangku Pamucuk di Pura Agung Besakih berupa bhakti dan rayunan kepada 9 orang Pemangku Pamucuk bertempat di Bale Agung di sisi timur palinggih Padma Tiga.
Upacara Ida Bhatara Turun Kabeh 9 April 2009 dimulai jam 11.15 wita dengan pemujaan oleh 5 orang Sulinggih di Bale Gajah diakhiri dengan persembahyangan bersama. Prosesi berikutnya adalah Ida Bhatara Tedun ke Paselang berlanjut usai persembahyangan pada jam 13.10 wita, dengan prosesi mengiringkan pralingga Ida Bhatara Pura Agung Besakih dari palinggih Pengaruman Agung menuju palinggih Paselang dengan berkeliling natar pura searah jarum jam (Purawa Daksina) sebanyak 3 kali. Usai dilakukan pemujaan oleh 2 orang Sulinggih, prosesi dilanjutkan dengan pembacaan naskah Pajejiwan yang berisi pesan tentang alam semesta, kesuburan dan pemberkatan Ida Hyang Widhi Wasa kepada alam semesta beserta isinya. Selanjutnnya penutup prosesi Iad Bhatara Tedun ke Paselang adalah kembali mengiringkan pralingga Ida Bhatara Pura Agung Besakih menuju palinggih Pengaruman Agung. Prosesi Ayun Widhi dan Tedun ke Paselang diiringi pula oleh wewalen (tari, tabuh dan kidung) antara lain, Wayang Lemah, Topeng Sidhakarya, Rejang Dewa, Baris Gede, Gambuh, Gong Gede, dan Kidung yang digelar di natar Jeroan dan natar Bale Pegambuhan Pura Agung Besakih.
Sore hari pada jam 17.45 wita mulai dipersiapkan upacara Ajang Agung di Bale Agung Pura Agung Besakih. Upacara ini hanya dilaksanakan dan dan diikuti khusus oleh Pemangku Pamucuk di Pura Agung Besakih. Upacara ini dapat dikatakan sebagai bagian dari Rsi Yadnya yaitu persembahan kepada penuntun upacara berupa bhakti/sesajen dan rayunan (makanan) kepada 9 orang Pemangku Pamucuk Pura Agung Besakih. Diawali dengan pemujaan yang ditujukan kepada Ida Hyang Widhi yang bersthana di palinggih Ider Bhuwana, ritual Ajang Agung dilanjutkan dengan persembahyangan oleh 9 orang pemangku pamucuk ditutup secara simbolis dengan makan bersama sebagai wujud kebersamaan mereka.
Usai persembahan puncak upacara Ida Bhatara Turun Kabeh 9 April 2009, prosesi selanjutnya adalah Ida Bhatara Nyejer dengan upacara harian berupa Penganyar selama 14 hari dan pada hari ke 15 (24 April 2009) dilaksanakan upacara penutup seluruh rangkaian Karya Tawur Agung Panca Bali Krama lan Ida Bhatara Turun Kabeh dengan upacara Panyineban. Tiga hari sebelum Panyineban, tangggal 21 April 2009 akan dilaksanakan upacara Rsi Bhojana sebagai penghormatan kepada para Sulinggih atau pendeta yang telah memberi tuntunan dan bimbingan selama pelaksanaan Karya.

.
Foto 1: Tari Gambuh Batuan
Foto 2: Topeng Sidhakarya
Foto 3: Murwa Daksina saat prosesi Tedun ke Paselang
Foto 4: Persiapan penataan sesajen dilakukan sejak pagi 9 April 2009 dipimpin langsung oleh Tapini Ida Pedanda Istri Karang dari Griya SIbetan, Karangasem
Foto 5: Ritual Ayun Widhi dipimpin oleh 5 orang Sulinggih yang melakukan pemujaan dari Bale Gajah.
Foto 6: Persembahyangan bersama usai ritual Ayun Widhi. Seluruh natar Pura Penataran Agung Besakih dipenuhi oleh umat yang tangkil saat itu.
Foto 7: Prosesi Ida Bhatara Tedun ke Paselang
Foto 8: Upacara Ajang Agung di Bale Agung dilakukan oleh 9 orang Pemangku Pamucuk Pura Agung Besakih.

Mapepada dan Pamemben

Mapepada dan Pamemben, 8 April 2009
Sebagai rangkaian awal upacara Ida Bhatara Turun Kabeh, hari ini Rabu 8 April 2009 diselenggarakan upacara “Mapepada” yang dilaksanakan sama dengan Mapepada Tawur Agng Panca Bali Krama (24 Maret 2009) yaitu dengan tata cara mengiringkan beberapa jenis binatang mengelilingi natar Pura Penataran Agung Besakih pada arah berlawanan jarum jam (presawya) sebanyak tiga kali yang secara filosofis diartikan sebagai satu prosesi untuk memohon kehadapan Tuhan / Ida Sang Hyang Widhi Wasa untuk berkenan memberikan berkah dan anugerah kepada binatang yang dipergunakan dalam rangakaian upacara Ida Bhatara Turun Kabeh. Upacara Mapepada diakhiri dengan prosesi panglepas prani (dengan sesajen dan tirtha lepas prani) dan nuwek (menyentuhkan senjata Ida Ratu Pande ke tubuh binatang-binatang tersebut)sebagai simbol binatang tersebut telah binasa
Usai upacara Mapepada, binatang-binatang tersebut disembelih di perantenan Pura Agung Besakih dan beberapa bagian digunakan sebagai pelengkap sesajen. Sore hari dilakukan kegiatan Nyoroh Banten atau menata sesajen untuk persembahan Tawur pada keesokan harinya. Kegiatan Nyoroh Banten ini diakhiri dengan ritual Puja Pamemben pada malam hari yang bermakna pernyataan bahwa seluruh upakara/sesajen telah dipersiapkan dan ditata secara lengkap. Upacara Puja Pamemben ini dilakukan oleh Ida Pedanda Gede Pasuruan dari Griya Sibetan, Karangasem.
.

.

Foto 1: Sesaat menjelang prosesi mengiringkan wewalungan yang digunakan dalam prosesi Mapepada.

Foto 2: Prosesi Panglepas Prani berupa pemberkatan wewalungan dengan sesajen dan tirta panglepas prani dan nuwek atau menyentuhkan senjata pusaka Iada Ratu Pande ke tubuh wewalungan (binatang).

Foto 3: Nyoroh banten untuk upacara Ida Bhatara Turun Kabeh seusai upacara Mapepada di Sanggar Tawang natar Pura Penataran Agung Besakih. Tampak Ida Pedanda Istri Karang (kiri) dibantu oleh pengayah istri menata sesajen/banten di Sanggar Tawang Pura Penataran Agung Besakih.

Mapepada dan Pamemben

Mapepada dan Pamemben, 8 April 2009
Sebagai rangkaian awal upacara Ida Bhatara Turun Kabeh, hari ini Rabu 8 April 2009 diselenggarakan upacara “Mapepada” yang dilaksanakan sama dengan Mapepada Tawur Agng Panca Bali Krama (24 Maret 2009) yaitu dengan tata cara mengiringkan beberapa jenis binatang mengelilingi natar Pura Penataran Agung Besakih pada arah berlawanan jarum jam (presawya) sebanyak tiga kali yang secara filosofis diartikan sebagai satu prosesi untuk memohon kehadapan Tuhan / Ida Sang Hyang Widhi Wasa untuk berkenan memberikan berkah dan anugerah kepada binatang yang dipergunakan dalam rangakaian upacara Ida Bhatara Turun Kabeh. Upacara Mapepada diakhiri dengan prosesi panglepas prani (dengan sesajen dan tirtha lepas prani) dan nuwek (menyentuhkan senjata Ida Ratu Pande ke tubuh binatang-binatang tersebut)sebagai simbol binatang tersebut telah binasa
Usai upacara Mapepada, binatang-binatang tersebut disembelih di perantenan Pura Agung Besakih dan beberapa bagian digunakan sebagai pelengkap sesajen. Sore hari dilakukan kegiatan Nyoroh Banten atau menata sesajen untuk persembahan Tawur pada keesokan harinya. Kegiatan Nyoroh Banten ini diakhiri dengan ritual Puja Pamemben pada malam hari yang bermakna pernyataan bahwa seluruh upakara/sesajen telah dipersiapkan dan ditata secara lengkap. Upacara Puja Pamemben ini dilakukan oleh Ida Pedanda Gede Pasuruan dari Griya Sibetan, Karangasem.
.

.

Foto 1: Sesaat menjelang prosesi mengiringkan wewalungan yang digunakan dalam prosesi Mapepada.

Foto 2: Prosesi Panglepas Prani berupa pemberkatan wewalungan dengan sesajen dan tirta panglepas prani dan nuwek atau menyentuhkan senjata pusaka Iada Ratu Pande ke tubuh wewalungan (binatang).

Foto 3: Nyoroh banten untuk upacara Ida Bhatara Turun Kabeh seusai upacara Mapepada di Sanggar Tawang natar Pura Penataran Agung Besakih. Tampak Ida Pedanda Istri Karang (kiri) dibantu oleh pengayah istri menata sesajen/banten di Sanggar Tawang Pura Penataran Agung Besakih.

Pangremek Karya Tawur Agung Panca Bali Krama

Pangremek Karya Tawur Agung Panca Bali Krama, 28 Maret 2009.
Puncak upacara Karya Tawur Agung Panca Bali Krama telah usai dilaksanakan pada tanggal 25 Maret 2009. Esok harinya, tanggal 26 Maret 2009, jagat Bali hening menghentikan segala kegiatan untuk menjalankan catur brata panyepian: amati geni, amati karya, amati lelanguan dan amati lelungan. Wraspati Pon Kuningan, Kamis 26 Maret 2009, Bali memasuki tahun Baru Saka 1931 menutup riuh akhir tahun Saka 1930 dengan hening di awal tahun Saka 1931, somya saat kekuatan bhuta kembali pada kekuatan dewa.
Usai Nyepi, rangkaian upacara Panca Bali Krama dan Bhatara Turun Kabeh di Besakih dilanjutkan dengan upacara Penganyar (rutin dilaksanakan setiap hari) hingga tanggal 9 April 2009 saat dilaksanakan puncak upacara Ida Bhatara Turun Kabeh. Masih terkait dengan Tawur Agung Panca Bali Krama 2009, tanggal 28 Maret 2009 dilaksanakan upacara Pangremek Karya Tawur Panca Bali Krama atau lazim juga disebut Tigang Rahina Karya (3 hari setelah puncak upacara) sebagai pertanda bahwa rangkaian upacara Tawur Agung Panca Bali Krama telah usai dilaksanakan. Upacara ini dilaksanakan secara sederhana yaitu dengan melakukan ritual pembakaran unsur-unsur upakara/sesajen (Ngeseng Orti) lalu menguburnya di tempat upakara Bagia Pulakerthi di tengah-tengah areal Genah Tawur (Mendem Bagia Pulakerthi).
Pemujaan upacara Pangremek Karya dilakukan oleh Ida Pedanda Wayahan Bruruan Manuaba dari Briya Buruan, Gianyar yang diakhiri dengan muspa atau persembahyangan bersama oleh seluruh pengayah yang hadir saat itu.

Puncak Karya Tawur Agung Panca Bali Krama

Puncak Karya Tawur Agung Panca Bali Krama, 25 Maret 2009.
Rangkaian puncak upacara Panca Bali Krama diselenggarakan hari ini Rabu 25 Maret 2009 sejak pagi hari sekitar jam 8.00 di Bancingah Agung Pura Agung Besakih. Sebanyak 15 orang pendeta (Sarwa Sadaka) yang melakukan pemujaan secara bersamaan di “genah tawur” untuk memimpin pelaksanaan upacara Karya Agung Panca Bali Krama. 15 orang Pendeta itu melakukan pemujaan masing-masing 2 orang di 4 arah penjuru (utara, timur, selatan dan barat) serta 5 orang melakukan pemujaan di titik tengah.
Sementara di Genah dilaksanakan pemujaan, selang 30 menit, di natar Pura Penataran Agung Besakih dilakukan upacara Ayun Widhi yang dipimpin oleh 3 orang pendeta yang memuja di Bale Gajah dan ritual Tedun ke Paselang dipimpin oleh 2 orang Pendeta. Selain itu, dilaksanakan juga upacara Pangemit Karya dan Pangerajeg Karya yang masing-masing dipimpin oleh seorang Sulinggih (pendeta). Secara keseluruhan, puncak Karya Panca Bali Krama pada Rabu 25 Maret 2009 dipimpin oleh 22 orang Sulinggih.
Prosesi yang dipandang sebagai puncak adalah saat melaksanakan prosesi membuat “Nasi Tawur” di tengah-tengah areal upacara yang dilakukan oleh Pedanda Bhuda dibantu oleh para “pengayah”. Nasi Tawur dibuat dengan mencampurkan berbagai sarana upakara dari empat “Sanggar” di empat arah mata angin dengan materi utama beras empat warna, hitam putih, kuning dan merah yang merupakan simbol kekuatan “pangider bhuwana” atau sebagai perlambang keseimbangan alam semesta. Setelah dicampur, Ida Pedanda Bhuda melakukan puja mantra yang mengandung makna untuk membuka jalan bagi kekuatan alam menuju arah kekuatan para dewata sehingga akan tercipta keseimbangan alam dan keseimbangan antara “bhuwana agung” (alam semesta) dengan “bhuwana alit” (manusia). Nasi Tawur dan Tirtha Tawur inilah yang dibagikan kepada seluruh Desa Adat di Bali untuk dibagikan kepada seluruh warga desa adat dan ditaburkankan pula di wilayah desa adat masing-masing sebagai pertanda bahwa Karya Agung Panca Bali Krama sebagai “yadnya jagat” (upacara seluruh jagat semesta) telah dilaksanakan secara serempak di semua tempat. Upacara Tawur di bancingah agung ini ditutup dengan persembahyangan bersama dipimpin oleh 15 pendeta diikuti oleh ribuan umat Hindu yang hadir saat itu. Unsur Pemerintah (yang dalam agama Hindu dipandang sebagai Guru Wisesa) hadir dalam upacara Panca Bali Krama tersebut, diwakili oleh Gubernur Bali dan jajaran pemerintahan tingkat prvinsi Bali, kabupaten dan kota se Bali. Rangkaian upacara yang juga dilaksanakan bersamaan adalah upacara “Ayun Widhi” dan “Tedun ke Paselang” dilaksanakan di halaman tengah (purian) Pura Penataran Agung Besakih. Upacara Ayun Widhi dan Tedun ke Paselang ini merupakan Dewa Yadnya sebagai rangkaian akhir dari pelaksanaan upacara Tawur Panca Bali Krama yang merupakan upacara Bhuta Yadnya. Peralihan prosesi Bhuta Yadnya ke Dewa Yadnya inilah memberikan gambaran tentang perputaran (siklus) pemurnian dan penyatuan kekuatan alam semesta dengan kekuatan utama Dewata (yadnya yang patut dilaksanakan oleh umat Hindu tercakup dalam Panca Yadnya, yaitu; Dewa Yadnya, Pitra Yadnya, Rsi Yadnya, Manusa Yadnya dan Bhuta Yadnya). Menarik untuk diketengahkan adalah upacara “Tedun ke Paselang” dengan rangkaian mengiringkan semua “pralingga” Ida Bhatara dari Bale Paruman Agung menuju Bale Paselang melalui prosesi mengelilingi natar (halaman) Pura Penataran Agung pada arah putaran jarum jam sebanyak tiga kali (Purwa Daksina). Pada prosesi di Bale Paselang dilakukan “Majejiwa” (dialog ritual) yang antara lain menyebutkan tentang Smara-Ratih dan tentang keberadaaan “isin gumi” (sumber daya alam) yang terkesan sebagai “upacara kesuburan”. Pada bagian akhir upacara Tedun ke Paselang dilakukan persembahyangan bersama dan membagikan beras kepada umat yang hadir yang sebelumnya dipergunakan sebagai alas “pralingga” di Bale Paselang dan selanjutnya mengiringkan kembali pralingga menuju Bale Paruman Agung dengan sebelumnya diiringkan menuju Candi Bentar untuk nodya atau menyaksikan upacara Tawur Panca Bali Krama di Genah Tawur Bancingah Agung Pura Agung Besakih. Sebagai kelengkapan dalam penyelenggaraan Karya Agung Panca Bali Krama, dipersembahkan pula “wali” (seni persembahan) berupa Topeng, Gong Gede, Gong Selonding, Rejang, Baris Gde, Wayang Lemah dan Kidung.

.
Foto 1: Prosesi Ngaduk Nasi Tawur saat puncak Karya Tawur Agung Panca Bali Krama.
Foto 2: Usai persembahan Tawur Agung Panca Bali Krama, perwakilan umat di masing-masing kabupaten, kota dan desa pakraman berebut Nunas Tirta Tawur dan Nasi Tawur yang nantinya disebarkan kepada seluruh warga desa pakraman.
Foto 3: Ritual Tedung ke Paselan di Natar Pura Penataran Agung Besakih.
Foto 4: Prosesi Nodya, pralingga Ida Bhatara nodya Tawur Agung dari Candi Bentar Pura Agung Besakih.
Foto 5: Manusa Saksi. Gubernur Bali dan jajaran pejabat tingkat provinsi, kabupaten dan kota se Bali hadir selaku unsur “manusa saksi”.

Melasti 2

Melasti Hari ke 3.
Setelah menempuh perjalanan selama 3 hari 2 malam berjalan kaki dengan jarak tempuh 70 kilometer, iring-iringan palelastian Panca Bali Krama dan Bhatara Turun Kabeh Pura Agung Besakih tiba kembali di Pura Agung Besakih dengan selamat tanpa hambatan yang berarti. Ribuan umat, dengan langkah tetap laju, tak surut oleh terik mentari selama 3 hari perjalanan. Jumlah keterlibatan umat tak hanya ribuan yang langsung mengikuti perjalanan palelastian namun mencapai puluhan ribu umat Hindu sepanjang jalan yang dilalui ritual tersebut. Seluruh warga Hindu di 29 desa pakraman yang dilalui palelastian secara antusias menyambut dengan bhakti (sesajen) dan yasa (makanan & minuman). Umat Hindu pangempon Pura Penataran Agung Klungkung, Pura Puseh Tohjiwa dan Pura Puseh Tebola (lokasi peristirahatan dan bermalam iring-iringan palelastian) bahkan menyambut secara khusus dengan menyelenggarakan ritual penyambutan (pamendak lan pasandekan) serta menyiapkan logistik untuk ribuan pangiring ritual palelastian.
Prosesi Melasti hari ke 3, 23 Maret 2009, dilakukan dengan menempuh sisa perjalanan dari Pura Puseh Tebola menuju Pura Agung Besakih dengan jarak 22 kilometer. Setelah menginap semalam, jam 6.00 pagi iring-iringan beranjak dari Pura Puseh Tebola menuju Pura Agung Besakih dengan 7 titik lokasi upacara pamendak. Kendati menempuh perjalanan menanjak, perjalanan Tebola-Besakih terhitung cepat karena tiba di Pura Agung Besakih pada jam 12.30 wita dengan waktu mesandekan (istirahat) dan katuran Pamendak Alit di Pura Pasimpangan Besakih sekitar 1 jam.
Setiba di Ambal-Ambal Pura Agung Besakih, Ida Bhatara Tirtha yang didatangkan dari 3 gunung (Semeru, Agung dan Rinjani) berikut Ida Bhatara Tirtha Sad Kahyangan di Bali diturunkan dari Sanggar Tawang di Pura Basukian dan secara bersamaan dengan pralingga Ida Bhatara yang baru datang dari Melasti dilakukan ritual persembahan penyambutan (Pamendak Agung). Usai upacara Pamendak Agung, didahului oleh Ida Bhatara Tirta, satu persatu jempana Ida Bhatara pura Agung Besakih diusung memasuki natar Pura Penataran Agung Besakih dan ditempatkan di palinggih Pengaruman Agung. Sementara itu, sujang Ida Bhatara Tirtha ditempatkan di Sanggar Tawang yang dibangun di natar Pura Penataran Agung Besakih.

.
Foto 1 dan 2:
Suasana pamendak oleh umat sepanjang jalu palelastian.
Foto 3:
Iring-iringan palelastian kawasan Toya Esah melewati di kawasan Rendang.
Foto 4:
Suasana ritual Pamendak Agung di Ambal-Ambal
Foto 5:
Usai pamendak agung, jempana diusung menuju ke parhyangan masing-masing